Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Muhasabah atau instropeksi diri merupakan kebutuhan dari setiap individu. Sebagai seorang muslim yang baik hendaknya kita tidak pernah lepas dari muhasabah. Muhasabah dapat dijadikan motivasi sekaligus semangat agar mampu melakukan hal yang lebih baik lagi. Semakin seseorang dapat mengetahui serta menyadari kesalahan yang telah dilakukannya, maka rasa menyesal dan bersalah pun akan semakin tertanam. Hal tersebut  yang nantinya dapat mendorong seseorang untuk melakukan hal yang lebih baik lagi serta dapat menjadi catatan seseorang agar tidak mengulangi dosa dan kesalahan yang sama.

Pada dasarnya introspeksi diri atau muhasabah memang identik dengan penyesalan, namun hakikat muhasabah sering disalahpahami mayoritas orang. Banyak yang beranggapan introspeksi diri adalah mengingat perbuatan dosa yang telah dilakukan, dengan menyesali dan menangisinya.  Padahal, pengertian tersebut bukanlah termasuk ke dalam muhasabah, namun itu adalah salah satu dari syarat-syarat taubatan nasuha  (taubat yang murni). Merujuk kepada hadis Rasulullah SAW tentang hakikat muhasabah, akan kita temukan yang dimaksud dengan muhasabah adalah memaksakan diri dan menundukkannya agar taat melaksanakan semua perintah Allah SWT sebagai bekal di akhirat.

Muhasabah menurut Rasulullah SAW sama artinya dengan jihad nafs atau jihad memerangi dan mengekang hawa nafsu. Rasulullah SAW dalam sabdanya yang lain menegaskan jihad nafs adalah salah satu jihad paling besar dan termasuk ke dalam hakikat seorang mujahid. ”Mujahid adalah orang yang mengekang jiwanya untuk taat kepada perintah Allah.” (HR Ahmad). Jadi muhasabah sangat erat hubungannya dengan ketaqwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu muhasabah akn memdorong seseorang agar taat melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

Karenanya, Umar bin Al Khatab pernah berkata, ”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat adalah ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya di dunia”. Marilah kita bergegas melaksanakan hakikat muhasabah yaitu dengan mengerjakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya, agar di akhirat kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang hisabnya ringan.