Sering kita dengar bahwa orang tidak mau berubah karena `berubah’ itu membuat stress. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa justru `tidak berubah’ lebih membuat stress karena dunia akan selalu berubah.

Ada sebuah perusahaan yang selama delapan tahun dikenal baik oleh masyarakat namun karena tidak banyak melakukan perubahan akhirnya diambil alih oleh perusahaan lain. Padahal produknya sangat baik, tetapi ketika terjadi perkembangan baru dibidang yang sejenis, perusahaan ini mandeg dengan produk yang ada saja sementara para pelanggannya mulai berpindah ke produk-produk lainnya yang lebih menarik.

Banyak pernikahan selamat karena kedua pasangan bersedia mengubah sikap serta perilakunya. Sebaliknya tak terhitung banyaknya perceraian karena kedua pasangan tidak mau berubah sama sekali, saling menyalahkan dan menciptakan kondisi-kondisi yang tak dapat ditolerir dan tak seorangpun bisa mempertahankannya.

Banyak orang yang kesulitan mempertahankan pekerjaannya dan akhirnya kehilangan pekerjaannya hanya karena tidak mau berubah. Dari salah satu perspektif dikatakan bahwa perubahan berarti ‘bertumbuh’ atau berubah dari melakukan hal yang salah menjadi melakukan hal yang benar.

Tentang perspektif pertumbuhan ini mendeskripsikan dengan sangat baik: “Di jaman perubahan ini, mereka yang terus belajarlah yang akan mewarisi bumi, sementara mereka yang selalu merasa dirinya pintar akan menemukan diri mereka telah berdandan lengkap dan rapi untuk menghadapi dunia yang sudah tidak ada lagi”.